BERAMAL LEWAT TULISAN

Tuesday, 12 May 2026

PERJALANAN PANJANG PETUALANG SOLO KE KEPULAUAN RIAU


SOLO TRAVELING KEPULAUAN RIAU

Menuju ke Riau Kepulauan bersama KM Bukit Raya yang memiliki rute setengah lingkaran seperti busur penggaris 180° menghubungkan Tanjung Perak Surabaya (A) dan Tanjung Priok Jakarta (B) memakan waktu hampir 7 harian. Rutenya tidak langsung menyusuri laut Jawa dari A ke B atau sebaliknya tapi berkeliling lewat utara (PP). Begitulah rutenya.

​Bulan lalu, aku dan istri juga berkeliling pakai KM Bukit Raya dari Surabaya menuju Pulau Natuna. Namun eksplorasiku ke Kepulauan Riau berasa belum jangkep, maka kali ini aku putuskan berkelana kembali sendirian dengan rute Jakarta ke Kota Kijang Pulau Bintan. Dari situ lantas mengeksplor beberapa spot lalu lanjut ke Tarempa.


PERJALANAN DARAT SEBELUM BERLAYAR

Karena starting point nya Jakarta, dari Malang aku harus ke Jakarta dulu lewat Surabaya. Aku pilih kereta api termurah yakni KA Airlangga, dari Stasiun Pasar Turi Surabaya menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta.

Dengan waktu tempuh hampir 13 jam (berangkat pukul 12.50 dan tiba pukul 00.58), harga tiket normalnya adalah 104K. Beruntung, sebagai lansia (=>60), aku dapat diskon 20% sehingga hanya membayar 84K. Tiket kereta kubeli melalui aplikasi KAI Access, sementara tiket KM Bukit Raya kubeli lewat aplikasi Pelni.


MEMULAI PELAYARAN & EKSPLORASI RIAU KEPULAUAN

​Pelayaran dari Jakarta menuju Belinyu (Pulau Bangka), kemudian berlanjut ke Sei Kolak Kijang (Pulau Bintan), setidaknya membutuhkan waktu sekitar 1 hari 19 jam.

Petualanganku yang sesungguhnya baru akan dimulai begitu tiba di Pulau Bintan. Sesuai namanya, Kepulauan Riau memang menjanjikan hamparan pulau yang tak terhitung jumlahnya, mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil.


SEHARI MENJEJAK DI KIJANG CITY

​Pelayaran bersama KM Bukit Raya akhirnya usai. Setelah mengarungi lautan dari Tanjung Priok Jakarta selama hampir dua hari dua malam meski sedikit melenceng dari jadwal, kapal itu dengan anggun bersandar di Pelabuhan Sei Kolak Kijang.

Pencarian penginapan tak perlu jauh, hanya sepelemparan batu saja. Sekitar seratus meter  arah kiri dari gerbang pelabuhan, RM Padang Ananda menyambut kedatanganku. Tempat ini sangat sederhana, menawarkan tempat bernaung dengan harga super ramah kantong, di bawah seratus ribu rupiah. Sebuah harga yang wajib disyukuri sebagai pintu gerbang menuju kota mini Kijang yang eksotis. Takdir petualangan ternyata sejalan dengan panggilan spiritual karena hari itu adalah Jumat, langkahku bergegas menuju masjid terdekat, dibantu tumpangan motor dari seorang jamaah yang sedang lewat. Sebuah perjalanan yang lancar dan penuh berkah di bumi Riau Kepulauan.

Setelah energi setelah istirahat terkumpul kembali, eksplorasi dimulai. Sekitar satu kilometer dari penginapan, Masjid Agung Nurul Iman berdiri megah, menjadi titik permulaan penjelajahan. Di sekitarnya ada Monumen Adipura yang gagah, jejak sejarah Kota Tua Bintan, sebuah danau kecil yang tenang di seberang masjid, serta keramaian lokal di Food Court dan Kijang City Walk. Malam hari kututup dengan menyantap kuliner sederhana namun nikmat yakni pecel sayur racikan khusus (tanpa gula dan garam) cuma ditemani 2 buah cabai, bawang putih, bumbu kacang, aneka sayuran dan sebutir telur rebus. Satu hal yang tak terlewatkan, hampir seluruh Bintan adalah surga bagi pecinta kopi murni. Kedai² lokal menyajikan seduhan kopi (bukan sachet) yang benar² top dan menghangatkan jiwa petualang.


Fajar menyingsing dan petualangan berikutnya kumulai lagi. Tujuanku adalah Pulau Kelong. Perjalanan dimulai dari dekat Pasar Ikan Barek Motor, di mana perahu pompong khas menanti. Kapal kayu kombinasi fiber berkapasitas 30an penumpang ini menyeberangkan kami dalam waktu 20 menit dengan ongkos hanya 12K per orang. Jika mendambakan kecepatan, speed boat tersedia sebagai alternatif, walau lebih mahal ongkosnya (20K). Pompong ini kapasitas penumpangnya hanya cukup untuk 5-10 orang. Hebatnya, para pemilik speed boat bahkan bisa menjemput langsung dari rumah ke rumah, sebuah bukti kuatnya ikatan komunitas maritim di sini.

Tiba di Desa Pulau Kelong, wilayah Kecamatan Bintan Pesisir, aku disambut oleh potret kehidupan pulau yang mandiri. Listriknya sudah menyala 24 jam yang disuplai dari genset, denyut kehidupan tak pernah padam, dibuktikan dengan adanya sekolah, Puskesmas dan Masjid Al Ma'ruf. Namun, di balik keindahan pesisir, terdapat tantangan ekonomi di sebuah pulau kecil yaitu masalah harga kebutuhan dasar yang lebih mahal, seperti gas melon harganya mencapai 23-24K, sedangkan minyak tanah 1,5 liter seharga 20K. Sebuah refleksi kontras antara pesona alam dan perjuangan masyarakat pulau.


TANJUNG PINANG

Setelah pake ojek 30 menitan dari Kijang akhirnya aku tiba di Bumi Gurindam 12 yakni Kota Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau. Kota ini memiliki sejarah dan kebudayaan yang kental dengan karya sastra monumental Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Bumi Gurindam ini sebagai pusat kebudayaan Melayu. Aku menginap di Hotel Laut Jaya di tepi laut dekat Pelabuhan Sri Bintan Pura dan Dermaga ke Pulau Penyengat. Stay di sini cukup worth it karena dekat kemana² dan bisa kemana².



PULAU PENYENGAT

Pulau Penyengat atau Penyengat Inderasakti adalah sebuah pulau kecil yang sangat kaya akan nilai sejarah dan budaya Melayu, terletak di seberang Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

​Pulau ini dulunya sebagai Pusat Pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga dan menjadi simbol kejayaan budaya Melayu Islam. Perannya sangat penting dalam Imperium Melayu dari tahun 1722 hingga akhirnya diambil alih Belanda pada tahun 1911. Pulau Penyengat dikenal sebagai mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud Syah III kepada istrinya, Engku Putri Raja Hamidah, pada tahun 1803. Meski pulaunya kecil tapi memiliki banyak situs bersejarah yang masih terawat, seperti ​Masjid Raya Sultan Riau. Masjid yang unik konon dibangun dengan campuran putih telur sebagai perekat. Di dekat situ terdapat kompleks makam para raja dan pembesar Kesultanan Riau, termasuk makam Raja Ali Haji, pahlawan nasional dan pencipta karya sastra terkenal Gurindam Dua Belas, ​Kompleks Istana dan Benteng Pertahanan di Bukit Kursi.




Pulau yang penduduknya cukup banyak ini  juga dikenal sebagai tempat lahirnya tata bahasa Melayu yang kemudian menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Pulau ini menjadi Kawasan Cagar Budaya Nasional dan destinasi wisata sejarah religi yang dapat dijangkau dari pusat Kota Tanjungpinang menggunakan perahu pompong sekitar 15 menit saja dalam cuaca normal. Ongkos berangkatnya 9 ribu dan kembalinya 7 ribu. Penumpang harus menunggu sampai 15 orang baru berangkat. Dermaganya bersebelahan dengan Pelabuhan Sri Bintan Pura yang melayani pelayaran ke beberapa destinasi Riau Kepulauan dan ke Malaysia/Singapura.

Masih di Tanjungpinang, esok paginya aku ke depan Pelabuhan Sri Bintan Pura. Di sekitar situ banyak pengemudi ojek nongkrong mencari penumpang. Sedangkan aku kesana mencari sewaan motor. Ada sih tempat persewaan motor tapi matic semua. Yang kucari adalah motor bebek manual (pakai gigi). Maklum biasa pakai yang manual. Sebenarnya pakai yang matic ga masalah namun berasa kurang nyaman karena tak biasa. Syukurlah akhirnya dapat, sewanya sehari 75K.

Lumayan, aku bisa keliling kota dan ke kawasan Pulau Dompak yang terhubung dengan jembatan panjang. Di situ terdapat Kantor Gubernur, Universitas, Sport Center dan kantor² lain yang terus dikembangkan. Senang berada di sini karena udaranya masih fresh dan bisa melihat ikon² baru Tanjungpinang. Banyak juga warga lokal yang mancing di sungai atas jembatan. View nya memang indah.




Setelah itu lanjut meluncur ke Gurun Pasir Telaga Biru yang jaraknya sekitar 45 Km arah Tanjung Uban. Gurun berwarna putih dan yang berwarna merah muda bata terhampar di sini. Adalah bekas penambangan bauksit masa lalu sehingga meninggalkan hamparan luas mirip gurun pasir dan telaga biru di dekatnya. Karcis masuk sebesar 20K dan free parking. Pulangnya santai aja dan mampir ke Makam Pahlawan Nasional Hang Nadim yang tidak sengaja aku menemukannya. Menjelang Maghrib aku tiba kembali di Tanjungpinang dan dari Sri Bintan Pura aku diantar pemilik motor Mas Widodo sampai Penginapan.


KAMPUNG BUGIS

Malam hari, aku beristirahat cukup untuk persiapan menjelajah esok hari. Pagi² sekali, aku menyempatkan diri menyeberang ke Kampung Bugis dengan perahu kecil yang selalu hilir mudik di depan penginapan. Ongkos menyeberang hanya 5K. Diiringi hujan rintik, cuma aku sendirian di atas perahu. Sekitar 10 menitan menyeberang, aku tiba di Kampung Bugis.



Semua rumah di sana terapung, termasuk jalanan yang terbuat dari kayu atau beton. Warga lokal terlihat hilir mudik menggunakan perahu ke Tanjungpinang untuk bersekolah atau bekerja. Aku tidak berlama² berada di sana, kemudian melanjutkan perjalanan ke kedai kopi untuk menikmati nasi dagang (nasi kucing) sebagai pengganjal perut di pagi hari. Iya ya, di Tanjungpinang itu sama sekali ga ada yang namanya Indomart/Alfamart termasuk di Pulau Bintan, Singkep dan Lingga.


​PULAU SINGKEP

​Menjelang siang, aku check out dari penginapan setelah mengambil laundry dan blusukan di dalam pasar tradisional sekitaran Jalan Plataran Pasar Ikan Tanjungpinang. Aku sudah janjian dengan Bang Junna Ojek yang akan mengantarkan aku ke Pelabuhan Sri Bintan Pura untuk bertolak ke Pulau Singkep.

Ferry cepat Super Jet 19 membawaku selama lima jam dari Tanjungpinang menuju Pelabuhan Jagoh, Pulau Singkep. Tiketnya 228K dan kapal berangkat tepat waktu pukul 11.00. Alhamdulillah, gelombang laut cukup tenang sehingga kami dapat merapat mulus di dermaga setelah singgah di beberapa pulau kecil, seperti Benan, Rajai dan Sei Tenam. Setiap singgah di pelabuhan kecil memakan waktu sekitar 10 menit untuk menaikkan dan menurunkan penumpang sebelum kapal kembali melanjutkan pelayaran. Sebagai catatan, jadwal keberangkatan kapal sewaktu² dapat berubah tergantung cuaca.



Sebelumnya aku pernah membaca bahwa jumlah pulau di Indonesia sekitar 17an ribu. Ternyata benar, baru di kawasan ini saja sudah terlihat begitu banyak pulau kecil "bertebaran" seperti kerikil yang tak terhitung. Sepanjang perjalanan di laut, sinyal internet hampir selalu tersedia.

Mataku sedikit berkaca² menyaksikan perjuangan para penumpang. Setelah ferry singgah di pulau kecil, beberapa penumpang turun/naik dan ada penumpang yang harus berpindah lagi ke perahu pompong untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung mereka. Sungguh luar biasa perjuangan mereka hanya untuk sekadar pulang ke rumahnya. Alhamdulillah, pada kesempatan ini aku sempat memberikan topi mungil lucu yang kubawa dari Malang kepada seorang balita yang duduk di sampingku.

​​Setibanya di Dermaga Pelabuhan Jagoh, aku bergeser sedikit ke Pelabuhan Roro, sekitar 300 meter dari situ. Bus DAMRI sudah menunggu, jadwalnya empat kali sehari. Kebetulan penumpangnya hanya dua orang, aku dan seorang Abang dari pulau sebelah. Ongkosnya 15K lumayan jauh lebih murah dibandingkan naik taksi "Avanza" dengan tarif 60K. ​Dari Jagoh ke Dabo hanya memakan waktu sekitar 30an menit, melewati jalanan sepi berliku di Pulau Singkep.


D A B O

Aku menginap di Hotel Gapura, persis di sebelah Hotel One yang tentu jauh lebih mahal. Hotel ini bersih dan worth it sebagai tempat tinggalku selama dua hari di Dabo. Hanya dengan 150K aku dapat kamar yang bersih, rapi, lengkap dengan AC, TV LED dan layanan air panas/dingin dari petugas yang ramah.

​Aku sangat senang berkelana ke wilayah Riau Kepulauan karena kopi dan kulinernya yang sedap. Hampir setiap hari aku pergi minum kopi di kedai. Sesekali aku menyempatkan diri ke pasar untuk membeli buah, sayur dan telur. Semua bahan itu aku rebus sendiri menggunakan ketel listrik yang kubawa, sebagai usaha untuk menjaga pola hidup sehat meskipun sedang dalam perjalanan. Shalat di masjid² pun menjadi usaha utama untuk selalu bersujud kepada-Nya.



Di persimpangan pusat Kota Dabo terdapat taman dan Masjid Besar Azzulfa, yakni masjid tua yang menjadi ikon kota. Di luar pagar masjid dihiasi tulisan besar "DABO SINGKEP". Lampu pada tulisan tersebut akan menyala di malam hari sehingga menambah semarak Kota Dabo.

​Beberapa tahun silam, Pulau Singkep dan Kota Dabo pernah berjaya karena produksi timahnya yang melimpah. Saat ini, Singkep dengan Dabo-nya merupakan kecamatan, sementara kabupatennya berada di Pulau Lingga. Polres dan Kejaksaan berada di Singkep, sedangkan Bupati ada di Daik, Pulau Lingga.

​Setelah Shubuhan di masjid, aku mencari kedai kopi dan sarapan gado². Lanjut ke pasar dan menyewa sepeda motor dari Abang Ojek Samin. Biaya sewanya sama seperti di Tanjungpinang, yaitu 75K. Aku mengunjungi Situs Budaya Meriam Tegak, Pantai Batu Daun, Pusat Latihan Tempur TNI AL dan terakhir shalat di Masjid Azzulfa.



Setelah istirahat siang, sorenya aku bersama Abang Samin menuju Air Terjun Batu Ampar yang jaraknya sekitar 12 km. Malam itu aku beristirahat untuk bersiap² naik DAMRI ke Pelabuhan Jagoh, dari situ aku melanjutkan perjalanan ke Pulau Lingga.


PULAU LINGGA BUNDA TANAH MELAYU

​Perjalanan dimulai dari Jagoh dengan DAMRI pukul 9 pagi, dilanjutkan Kapal Roro ke Penarik pukul 10.30 (tiket 15K, masuk pelabuhan 3K). Penyeberangan Roro memakan waktu 1,5 jam. Dari Penarik, perjalanan dilanjutkan dengan DAMRI menuju Daik (pusat Kota Lingga), berjarak sekitar 17 Km dengan ongkos 10K. Aku turun di dekat penginapan dan beruntung mendapat tumpangan motor hingga lokasi.

​Penginapan etnik berbahan kayu ini bertarif 110K, lengkap namun tanpa TV, flusher, dan air panas. Lokasinya strategis, dekat dengan berbagai pilihan kuliner dan persewaan motor murah.


​JELAJAH SEJARAH dan ALAM LINGGA

​Penjelajahan awal adalah Masjid Jami Sultan Lingga, berjarak sekitar 1 Km dari penginapan. Masjid peninggalan Kesultanan Melayu Riau Lingga ini dibangun pada tahun 1800-an pada masa Sultan Mahmud Syah III. Di belakang masjid terdapat kompleks makam Sultan dan kerabat.

Gunung Daik bercabang tiga tampak menjulang tinggi, menjadi ikon dan kebanggaan Kabupaten Lingga, yang dikenal sebagai "Bunda Tanah Melayu." Keunikan bentuknya termasyhur dalam lagu² Melayu. Gunung Daik memiliki ketinggian 1.165 mdpl, merupakan yang tertinggi di Kepulauan Riau, dengan tiga puncak: Daik, Pejantan, dan Cindai Menangis. Kawasan ini memiliki nilai sejarah kuat sebagai pusat peradaban Melayu.



Setelah Shubuh, aku menyewa motor (70K sehari) untuk menuju Tanjung Buton. Sebelum tiba, aku belokkan motor ke Benteng Bukit Cening. Jalanan mulus berganti tanah padat, lalu berbatu terjal, memaksa aku berjalan kaki ke benteng.

​Benteng Bukit Cening, diperkirakan dibangun pada abad ke-18 di masa Sultan Mahmud Syah III, adalah peninggalan penting Kesultanan Lingga. Benteng pertahanan ini berfungsi mengawasi Muara Sungai Daik dan Tanjung Buton. Benteng seluas sekitar 32 x 30 meter ini memiliki dinding tebal sekitar 4 meter dan dilengkapi meriam. Situs cagar budaya ini terawat baik oleh Juru Pelihara (Jupel) Pak Mustafa.

​Perjalanan berlanjut ke Tanjung Buton, sebuah dermaga ferry dan lokasi rekreasi untuk spot foto dan menikmati kuliner sambil melihat view indah. Dari sini terdapat dermaga untuk ferry dan penyeberangan pompong ke Pulau Mepar. Naik pompong ongkosnya (5K) dan waktu tempuhnya kurang dari 5 menit.



​Pulau Mepar sebelumnya sebagai lokasi benteng pertahanan strategis Kesultanan Lingga, terutama saat Sultan Mahmud Muzaffar Syah. Pulau ini menjadi saksi bisu penyerbuan Belanda tahun 1900-an. Terdapat sisa² benteng, kompleks makam kerabat Sultan dan sisa bangunan kuno. Pulau ini kini didiami masyarakat dengan fasilitas seperti sekolah, kantor desa dan masjid.


​WISATA ALAM LINGGA

​Pulau Lingga kaya akan spot wisata alam, pantai, pulau, sejarah dan kuliner Melayu, yang kini sedang terus dikembangkan. Tantangan infrastruktur masih ada, seperti listrik yang terkadang mati dan jalanan yang belum mulus. Provinsi Riau Kepulauan wilayahnya sangat luas namun hanya memiliki satu nomor plat kendaraan yakni 'BP'. Di Pulau Lingga baik di dalam kotanya Daik atau pun di sepanjang jalan yang ditumbuhi tanaman sagu banyak monyetnya. Sedangkan di Pulau Mepar dihuni lutung hitam berekor panjang. Bukan itu saja, meriam pun sangat banyak di Pulau Lingga menandakan disini pernah memiliki pertahanan yang kuat dan senantiasa dijaga dari ancaman musuh.

​Sore harinya, aku menuju Air Terjun Resun. Akses jalan bagus hingga parkiran, lalu dilanjutkan berjalan kaki. Air terjunnya indah dengan debit air besar, kawasannya terawat, bersih dan ramai pengunjung. Karena sudah hampir tutup (pukul 16.00), kunjungan ke air terjun cuma sebentar.



Destinasi terakhir adalah Sungai Kim di desa yang sama, Resun. Sungai ini berlokasi di tepi jalan dekat jembatan, memiliki air jernih dan bebatuan yang menarik, menjadikannya tempat bersantai favorit warga, terutama anak². Kunjungan ke sini tidak dipungut biaya.

​Perjalanan kututup dengan menyusuri Desa Musai yang berjarak sekitar 10 Km dari Daik, melalui jalanan yang dikelilingi pohon sagu yang subur. Desa Musai memiliki deretan rumah yang rapi, indah dan penuh kenangan bagi warganya.


SAMBUTAN HANGAT, DINAMIKA KOTA & JEJAK SEJARAH KOTA BATAM

​Perjalanan ke Batam Kepulauan Riau dimulai dengan persiapan logistik. Pagi hari diawali dengan sarapan lengkap dan secangkir kopi pahit sebelum dijemput menuju Pelabuhan Sei Tenam. Ferry cepat meluncur tepat pukul 08.30 WIB menuju Pelabuhan Punggur Batam dengan total biaya tiket dan pass pelabuhan sekitar 245K. Setelah empat jam perjalanan, ferry tiba di Punggur pukul 12.30 WIB.

Keluar dari pelabuhan, Bus Trans Batam Koridor 8 jurusan Jodoh menjadi pilihan transportasi. Dengan tarif non tunai hanya 5K, Jodoh terbukti menjadi pusat yang strategis. Area ini terbilang lengkap, dekat dengan terminal/halte Trans Batam, pusat perbelanjaan (Nagoya Mall, DC Mall), pelabuhan internasional, surga kuliner, handphone dan thrifting. Sebelum mencari penginapan, soto ayam segar seharga 20K menjadi pilihan santap siang.


​BATAM KOTA METROPOLITAN YANG GA  ADA MATINYA

​Batam menampilkan citra kota yang sibuk, serupa dengan Surabaya, namun dengan kemajuan infrastruktur yang signifikan. Jalan² lebar, gedung² tinggi dan hotel berbintang menandakan dinamika kota ini. Nagoya Shopping Mall tampak ramai, menunjukkan stabilitas ekonomi yang berbeda dari kondisi di kota² besar Jawa. Batam adalah rumah bagi masyarakat heterogen dari berbagai penjuru Indonesia, yang membuat denyut kota semakin hidup hingga malam hari.

Keesokan paginya, Trans Batam Koridor Jodoh - Batam Center membawaku ke Masjid Agung Raja Hamidah. Masjid yang besar dan megah ini berlatar belakang signboard raksasa "Welcome to Batam" di atas bukit dan menjadi salah satu ikon kota.

Sebagai catatan kendaraan berpelat hijau di Batam adalah mobil Complete Built Up (CBU), tidak ada fasilitas bebas bea masuk, PPN dan PPNBM karena Batam adalah kawasan perdagangan bebas (FTZ). Kendaraan ini hanya boleh dioperasikan di dalam wilayah FTZ dan tidak boleh dibawa keluar daerah tanpa membayar pajak yang seharusnya.


JEJAK MANUSIA PERAHU VIETNAM DI BARELANG

​Siang hari, perjalanan dilanjutkan ke Barelang (Batam, Rempang, Galang) menggunakan Bus DAMRI jurusan Sembulang, Pulau Rempang, dengan tarif terjangkau 20K, untuk perjalanan dua jam. Bus melewati empat dari enam jembatan ikonik Barelang (1-6).

​Tiba di Simpang Sembulang, upaya mencari angkutan ke Lokasi Eks Camp Pengungsi Vietnam menemui kesulitan. Beruntung, tumpangan didapatkan dari personel TNI yang bersedia mengantar hingga Camp di Pulau Galang (setelah Jembatan Barelang 5). Area ini adalah saksi bisu sejarah kelam, tempat di mana Presiden Soeharto bersama UNHCR menetapkan Pulau Galang sebagai lokasi penampungan manusia perahu pengungsi Vietnam antara 1979-1996.


Setelah membayar tiket masuk 11K (pengunjung & parkir motor), penjelajahan di sekitar bekas bangunan kamp dimulai. Meskipun tidak ada lagi orang Vietnam yang tinggal di sana, sisa² bangunan, barak, rumah sakit, pemakaman dan gereja/pagoda menjadi pengingat masa lalu.

​Kembali dari Camp Pengungsi menjadi tantangan karena minimnya kendaraan umum. Solusinya adalah menunggu KANDAP (Koperasi Angkutan Anak Pulau), sebuah angkutan jenis APV berwarna abu². Setelah sempat ikut mengantar penumpang ke Pulau Galang Baru, mobil akhirnya melaju ke pinggiran kota Batam. Perjalanan berakhir di kawasan SP dengan tarif 40K, dilanjutkan dengan angkot jadul berwarna merah (9K) jurusan Dapur-Jodoh.


Hari terakhir di Batam sebelumnya aku sempatkan laundry, beli tiket kapal Pelni online Kijang-Surabaya (KM Tidar). Pagi² setelah sarapan aku jalan kaki ke Halte Trans Batam Jodoh meluncur ke Pelabuhan Punggur. Tiket Punggur ke Tanjungpinang 80,5K ikut Ferry Oceania 11 (11.45) dengan lama perjalanan sekitar 90 menit. Di Tanjungpinang aku sewa angkot (75K) ke Sei Kolak Kijang untuk naik KM Tidar besok siang tujuan Surabaya. Nunggu semalam aku stay di penginapan super budget di sebelah pelabuhan. Di situ ada RM Padang, jadi kalau mau makan atau ngopi tinggal bilang.

Keputusan kembali ke Surabaya dengan KM Tidar tidak melalui Tarempa (sesuai rencana awal), didasari beberapa pertimbangan diantaranya kondisi cuaca saat ini musim ombak tinggi dan sering hujan lebat sehingga perjalanan ferry ke Tarempa kurang nyaman. Yang kedua, ​jika menggunakan Kapal Pelni Bukit Raya transit di Tarempa cuma 2 jam dan berpotensi hujan sehingga ga bisa turun. Rute ke Surabaya via Tarempa memakan waktu 5 hari, jauh lebih lama dibanding KM Tidar via Kijang yang hanya 3 hari. ​Oleh karena itu, rute via Tarempa aku batalkan dan mengalihkan ke Surabaya melalui Kijang. Terasa berat sih belum nginjak Tarempa Anambas. Semoga lain waktu bisa kesana dengan suasana yang lebih baik.


Setelah bersuka duka berlayar bersama KM Tidar selama tiga hari, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Tanjung Perak dan meneruskan perjalanan dengan bus ke kota tercinta Malang, berkumpul kembali dengan keluarga tercinta.

Tunggu kisah perjalananku berikutnya ke penjuru nusantara.


I ❤️ Beautiful Indonesia 



Copyright@by RUSDI ZULKARNAIN